Manusia, Agama dan Ilmu Pengetahuan
|
|
Potensi
akal
Manusia adalah mahluk
yang rasional dan Pada hakikatnya manusia adalah mahkluk yang lebih maju
dibandingkan dengan mahluk lainnya. walaupun ada persamaan, namun manusia
adalah mahluk yang khas, terdapat potensi yang besar yang Tuhan telah tanamkan
pada diri manusia, dengan potensi itu manusia akan mendapatkan suatu hal yang besar. tak mungkin digapai oleh mahluk yang tidak
memilki potensi tersebut. Tentu saja kemuliaan menjadikan manusia menemukan
sisi manusiawi. Karena ada satu hal yang penting sebenarnya harus diketahui
manusia sebagai mahluk hidup bahwa tuhan menempatkan kedudukan manusia lebih
atas, dibandingkan mahluk ciptaan lainnya. dikarenakan anugrah akal dari Tuhan
ditujukan khusus untuk manusia.
Namun disisi lain tidak
menuntut kemungkinan manusia bisa jatuh pada jurang kehinaan. Apakah dapat
diklaim bahwa kemulian itu mutlak akan didapatkan manusia?dan sudah menjadi hak
paten bahwa hal sebaliknya tidak mungkin terjadi. Tidak ada jaminan akan hal
ini, kemuliaan akan memihak kepada sesorang yang mengoptimalkan potensi
tersebut. Sekarang muncul pertanyaan, apakah ada orang yang tidak memanfaatkan
atau mengoptimalkan potensi tersebut ?.
Alam beserta isinya
mempunyai makna yang besar jika mau dikaji, namun tak semua orang memikirkannya
dan mencoba memahaminya. Ternyata ada orang yang sisi hewaninya lebih
mendominasi dalam dirinya, yang ia pikirkan tidak lebih dari hal-hal yang
bersifat material dan kesenangan semata. seperti makan, minum, tidur, pemuasan
nafsu. Bisa jadi orang seperti ini termasuk dalam golongan berfikir primitif.
Dengan
akal pikiran manusia mulai membangun prabadabannya, sebuah pradaban tercipta
itu berkat pengaktualan potensi menjadi sesuatu yang dapat dikenal, dan menjadi
sebuah bukti dari sisi manusiawi. Bahwa manusia terus-menerus berubah oleh
karena itu selalu terjadi
pengembangan-pengembangan yang bersifat signifikan. Berbeda halnya dengan
pemahaman sebuah aliran filsafat yang menganggap manusia adalah mahluk yang
tetap dan tidak pernah berubah sama sekali, dengan demikian pun nilai
kemanusiaan tidak sifat ada. Jika penulis hendak menyimpulkan berdasarkan
penelaan pribadi bahwa yang disebut manusia tetap dan tidak mengalami perubahan
adalah orang-orang yang masih berfikiran primitif. Yang ia tahu hanyalah
hal-hal yang bersifat regional, yakni hanya pada lingkungannya saja dan masa
sekarang. Tanpa ada keiginan untuk mengetahui sejarah manusia sebelum ia lahir
serta tidak memiliki perencanaan masa depan.
Manusia dan Pentingnya Agama
Manusia dan Pentingnya Agama
Tujuan kehidupan manusia adalah menuju
kesempurnaan, perjalanan dimulai dari sisi
hewani manusia berevolusi menuju sisi manusiawi. Pada permulaan eksistensinya,
manusia tak lebih daripada organisme material. Berkat gerakan evolusioner yang
mendasar, manusia berubah menjadi substansi spiritual. dan sekarang manusia
tengah melakukan perjalanan , ketika manusia mengalami perkembangan maka pada
saat itu berusaha menuju kemandirian mengendalikan aspek-aspek lainnya yang ada
dalam diri manusia sendiri, artinya berusaha melawan dominasi sisi hewaninya.
Memang jalan tak selamanya mulus, beberapa
tahap harus ditempuh untuk sampai pada tujuan. Manusia butuh sebuah wadah,
pedoman, ataupun arahan yang dapat mengantarkannya sampai pada tujuan. Seperti
halnya kapal laut, Manusia akan berlabuh dalam lautan kehidupan, jika tidak ada
peta sebagai petunjuk mana mungkin akan sampai padakeh pulau kesempurnaan, kapten dan awak harus bekerja sama agar perjalanan yang
aman, walaupun sudah tentu ombak keduniaan akan menggoyangkan kapal.
Apakah yang menjadi pedoman dasar prilaku
manusia ? sistem seperti apakah yang akan membawa manusia selamat sampai tujuan
? kemudian seberapa pentingnya bagi kehidupan manusia?
Pedoman
kehidupan manusia adalah Agama, yang mesti ada dan terpisahkan dari diri
manusia, kalau di dalam buku Manusia dan Alam Semesta karya Murtadha
Mutahari. Agama juga disebut sebagai keyakinan religius. Agama diturunkan oleh
Tuhan sebagai syariat bagi manusia. pada
dasarnya manusia memiliki dorongan untuk menemukan hakikat kebenaran seperti
apa adanya, atau menalarnya sebagai mana mestinya. Artinya manusia ingin
memperoleh pengetahuan-pengetahuan tentang alam, wujud, dan keadaan
sesungguhnya. Oleh karenanya agama bersifat fitrawi bagi manusia karena dalam
diri manusia terdapat dorongan untuk mencari kebenaran.
Agama sebagai sistem kehidupan sangat berperan
penting sebagai kebutuhan manusia, karena jika seseorang hidup dalam bingkai
agama, maka sikap dan prilakunya akan singkron dengan tujuan hidup sebenarnya. Oleh
sebabnya keyakinan religius harus tertanam dalam jiwa manusia. “ Keyakinan religius adalah laksana
lentera yang menerangi rohaninya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki
keyakinan religius melihat dunia gelap gulita, kotor dan tak ada artinya, dan
akibatnya hati orang tersebut tetap gelap gulita di dunia yang dianggapnya
gelap gulita itu” kutipan saya dalam buku Manusia dan Alam Semesta.
Agama dan Ilmu Pengetahuan
Dalam buku Manusia dan
Alam Semesta. Disebutkan oleh Ayatullah Murtadha Mutahari, dalam diri
manusia terdapat dua bagian yaitu sisi manusiawi dan sisi hewani. Artinya ada hubungan
antara realitas spritual dengan realitas material manusia, dan sudah jelas
bahwa agama dan ilmu pengetahuan adalah bagian dari sisi manusiawi manusia.
Kedua hal ini menandakan eksistensi manusia.
Agama harus dilandasi
dengan ilmu pengetahuan, Agama tanpa ilmu pengetahuan akan mengalami
kejanggalan dan berakhir pada prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan.
Begitu juga ilmu pengetetahuan harus berkorelasi dan sejalan dengan tujuan
agama. Sebab jika sekiranya terjadi penyimpangan di antara keduanya yang akan
terjadi adalah pengrusakan kemurnian agama. Agama akan dijadikan sebagai modus
pemanfaatan kepentingan-kepentingan orang yang berpengetahuan.
Seperti contohnya kuil
Amun pada zaman Nabi Yusuf. Para pendeta melakukan pembodohan kepada masyarakat
demi mendapatkan kekayaan dan keuntungan. Sebuah patung emas yang berada
didalam kuil Amun tiap hari di bawa ke sungai Nil untuk dimandikan, lalu
disemayamkan di hadapan semua masyarakat, dan dari patung itu keluarlah suara
yang besar dan berbicara kepada masyarakat bahwa mereka diperintahkan setiap
hari membawa sesembahan dikuil agar mereka mendapat kesejahteraan dan
perlindungan. Namun pada akhirnya terbukti bahwa suara tersebut adalah suara
sipendeta yang sengaja dibuat untu-buat untuk mengelabui para pengikut kuil. Pada
akhirnya keyakinan religius para masyarakat hanya dipermainkan dan dimanfaatkan
oleh para pendeta untuk memenuhi keinginan pribadi mereka.
Ilmu
pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk
yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu
si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam. Agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan
selaras hingga manusia mencapai titik tujuan akhirnya.

Komentar
Posting Komentar